Epistemologis Pancasila (Pemahaman dan Kajian Tentang Epistemologisnya Pancasila)

     Pancasila adalah merupakan dasar negara, dasar falsafah bangsa Indonesia. Kita semua merasa sebagai warga negara Republik Indonesia dan setiap orang yang mengakui secara sadar sebagai warga negara Republik Indonesia adalah wajib melaksanakan Pancasila dan UUD 1945.

    Agar dapat melaksanakana Pancasila secara baik, maka diperlukan pengetahuan yang benar mengenai Pancasila tersebut, karena dengan adanya pengetahuan yang benar tentang Pancasila, maka akan lebih menyadarkan kita dalam melaksanakannya dan lagi kita selalu mempunyai pegangan yang jelas sehingga tidak mudah goyah dan terombang-ambingkan oleh situasi dan keadaan terutama oleh perkembangan dan pertumbuhan politik dan zaman.

   Sering dalam kenyataannya kita sering sekali mengabaikan beberapa nilai yang ada dalam Pancasila, sehingga yang tadinya itu seharusnya menjadi baik, namun karena kita kurang memahami nilai-nilai yang ada dalam Pancasila kita sering melakukan tindakan yang tidak terpuji, seperti korupsi, kolusi dan nepotisme.

    Maka dari itu banyak sekali muncul pembahasan tentang Pancasila baik dari segi Ontologis, Epistemologis dan Aksiologisnya. Dari segi ontologisnya bahwa Pancasila beserta sila-silanya adalah suatu kesatuan dasar, bukanlah suatu yang berdiri sendiri-sendiri dan terpisah. Sila-sila yang ada dalam Pancasila juga bersifat hirarkis dan piramidal yang artinya sila yang satu akan mempengaruhi sila-sila  dibawahnya. Ada juga yang membahas Pancasila dari segi epistemologisnya, yaitu Pancasila dilihat dari segi Keilmuan Pengetahuannya. Epistemologisnya Pancasila tidak bisa dilepaskan dari Ontologisnya Pancasila, sebagai suatu pandangan sebagai epistemologis, maka Pancasila mendasarkan pada pandangannnya bahwa pengetahuan tidak bebas nilai karena diletakkan pada kerangka moralitas kodrat manusia serta moralitas religius dalam upaya untuk mendapatkan suatu tingkatan pengetahuan yang mutlak dalam kehidupan manusia, dan nilai-nilai tersebut ada dalam Pancasila. Dari segi aksiologisnya, yaitu sila-sila yang ada dalam Pancasila pada hakikatnya merupakan suatu kesatuan dasar dengan aksiologisnya, yaitu nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila pada hakikatnya merupakan suatu kesatuan. 

   Berdasarkan keterangan diatas saya akan membahas tentang Pancasila ditinjau secara epistemologis, yaitu Epistemologis Pancasila, yang mengungkapkan bahwa Pancasila adalah bagian dari suatu sistem ilmu pengetahuan yang patut untuk kita kaji dan jadikan pedoman bagi kita untuk melakukan kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.


EPISTEMOLOGI PANCASILA


pancasila dasar negara

Epistemologi

Ada banyak pengertian mengenai epistemologi, diantaranya ialah :
     Epistemologi adalah bagian dari filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat, metode dan keshahihan pengetahuan.

    Epistemologi mempunyai posisi dimana epistemologi mencerminkan pandangan mereka tentang apa yang bisa kita ketahui tentang dunia dan bagaimana kita dapat mengetahuinya; secara harfiah epistemologi adalah suatu teori tentang pengetahuan (Marsh dan Stoker, 2011 : 22). 

Menurut Mohammad Noor Syam (1984 : 359) :
Epistemologi adalah bidang filsafat yang menyelidiki sumber, syarat, proses terjadinya ilmu pengetahuan, batas, validitas, dan hakekat ilmu pengetahuan. Termasuk dalam epistemologi penelitian tentang semantika, logika dan matematika. Epistemologi disebut juga teori ilmu pengetahuan (Wissenscaftslehre).
Menurut pendapat Brameld (Mohammad Noor Syam, 1984 : 32) :
It is epistemology that gives teacher the assurance that he is conveying the truth to his student. (Epistemologi memberikan kepercayaan dan jaminan bagi guru bahwa ia memberikan kebenaran kepada murid-muridnya).

   Jadi objek material epistemologi adalah pengetahuan dan objek formalnya adalah hakikat pengetahuan itu. Jadi sistematika penulisan epistemologi adalah arti pengetahuan, terjadinya pengetahuan, jenis-jenis pengetahuan dan asal-usul pengetahuan. Asal usul pengetahuan termasuk hal yang sangat penting dalam epistemologi. Untuk mendapatkan darimana pengetahuan itu muncul (berasal) bisa dilihat dari aliran-aliran dalam pengetahuan, dan bisa dengan cara metode ilmiah, serta dari sarana berpikir ilmiah. Landasan epistemologis suatu ilmu mejelaskan proses dan prosedur yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan berupa ilmu serta hal-hal yang harus diperhatikan agar diperoleh pengetahuan yang benar, menjelaskan kebenaran serta kriterianya, dan cara yang membantu mendapatkan pengetahuan. Dalam menjelaskan masalah kebenaran pengetahuan, pengetahuan yang benar menurut kajian dalam epitemologis ialah pengetahuan yang telah memenuhi unsur-unsur epistemologis yang dinyatakan secara sistematis dan logis.

    Bagi kita, epistemologi dapat dianggap sebagai norma ilmu pengetahuan. Jadi, epistemologi menetapkan apakah suatu cabang ilmu layak/tepat atau memenuhi syarat atau tidak, untuk dianggap sebagai ilmu pengetahuan atau cabang ilmu pengetahuan (M. Noor Syam, 1984 : 360).

    Kemudian, apa yang harus dipelajari dalam epistemologi? Epistemologi mempelajari tentang sumber pengetahuan, metode mendapatkan pengetahuan, instrumen apa saja untuk merumuskan pengetahuan, dan standar kebenaran pengetahuan? Semua aspek tersebut harus dikuasai guna mendapatkan suatu pengetahuan yang valid dan dapat dipertanggung jawabkan isi dan kebenarannya.

Pancasila

     Pancasila merupakan dasar filsafat negara Republik Indonesia, yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 yang mempunyai kedudukan tetap, terlekat pada kelangsungan Negara Republik Indonesia yang diploklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Oleh karena itu pancasila menjadi sumber dari segala sumber hukum bagi seluruh warga Indonesia. Adapun susunan Pancasila seperti yang terdapat dalam bagian keempat pembukaan UUD 1945 urut-urutannya ialah sebagai berikut :
  1. Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

    Dalam susunan hierarkis ini, maka Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi basis kemanusiaan, persatuan Indonesia, kerakyatan dan keadilan sosial. Sebaliknya Ketuhanan Yang Maha Esa adalah ketuhanan yang berkemanusiaan, yang membangun, memelihara dan mengembangkan persatuan Indonesia yang berkerakyatan dan berkeadilan sosial demikian selanjutnya, sehingga tiap-tiap sila di dalamnya mengandung sila-sila lainya (Kaelan & A. Zubaidi, 2007 : 11).

     Secara ontologis kesatuan sila-sila Pancasila sebagai suatu sistem yang bersifat hierarkis adalah sebagai berikut : bahwa hakikatnya adanya Tuhan adalah ada karena dirinya sendiri, Tuhan sebagai Causa Prima. Oleh karena itu segala sesuatu yang ada termasuk manusia ada karena diciptakankan Tuhan atau manusia ada sebagai akibat adanya Tuhan (Sila 1). Adapun manusia adalah sebagai subjek pendukung pokok negara, karena negara adalah lembaga kemanusiaan, negara adalah sebagai persekutuan hidup bersama yang anggotanya adalah manusia (Sila 2). Maka negara adalah akibat adanya manusia yang bersatu (Sila 3). Sehingga terbentuknya persekutuan hidup bersama yang disebut rakyat. Maka rakyat pada hakikatnya merupakan unsur negara di samping wilayah dan pemerintah. Rakyat adalah sebagai totalitas individu-individu dalam negara yang bersatu (Sila 4). Keadilan pada hakikatnya merupakan tujuan suatu keadilan dalam hidup bersama atau dengan lain perkataan keadilan sosial (Sila 5). Pada hakikatnya negara sebagai tujuan dari lembaga hidup bersama yang disebut negara (lihat Kaelan & A. Zubaidi, 2007 :11-12).

Dasar Epistemologis Pancasila

     Pancasila sebagai suatu sistem filsafat pada hakikatnya juga merupakan suatu sistem pengetahuan. Dalam kehidupan sehari-hari, Pancasila merupakan pedoman atau dasar bagi bangsa Indonesia dalam memandang realitas alam semesta, manusia, masyarakat, bangsa dan negara tentang makna hidup serta sebagai dasar bagi manusia dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam hidup dan kehidupan. Pancasila dalam pengertian seperti yang demikian ini telah menjadi suatu sistem cita-cita atau keyakinan-keyakinan (belief system) yang telah menyangkut praksis, karena dijadikan landasan bagi cara hidup manusia atau suatu kelompok masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan (Kaelan & A. Zubaidi, 2007 : 15).

     Dasar epistemologis Pancasila pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan dengan dasar ontologisnya. Pancasila sebagai suatu ideologi bersumber pada nilai-nilai dasarnya yaitu filsafat Pancasila (lihat Kaelan & A. Zubaidi, 2007 : 15). Oleh karena itu epistemologis Pancasila tidak dapat dipisahkan dengan konsep dasarnya tentang hakikat manusia. Karena manusia merupakan basis dari ontologis Pancasila, maka dengan demikian mempunyai implikasi terhadap bangunan epistemologi, yaitu bangunan epistemologi yang ditempatkan dalam bangunan filsafat manusia (lihat Kaelan & A. Zubaidi, 2007 : 15).

Epistemologi Pancasila

     Pancasila sebagai suatu objek pengetahuan pada hakikatnya meliputi masalah sumber pengetahuan Pancasila dan susunan pengetahuan Pancasila.

Sumber Pengetahuan Pancasila

     Sebagaimana telah dipahami bersama bahwa sumber pengetahuan Pancasila adalah nilai-nilai yang ada dalam bangsa Indonesia sendiri, bukan berasal dari bangsa lain, bukannya hanya merupakan perenungan serta pemikiran seseorang atau beberapa orang saja, namun dirumuskan oleh wakil-wakil bangsa Indonesia dalam mendirikan negara. Dengan lain perkataan bahwa bangsa Indonesia adalah sebagai kausa materialis Pancasila. 

     Oleh karena sumber pengetahuan Pancasila ialah bangsa Indonesia itu sendiri yang memiliki nilai-nilai adat-istiadat serta kebudayaan dan nilai religius, maka diantara bangsa Indonesia sebagai pendukung sla-sila Pancasila dengan Pancasila sendiri sebagai suatu sistem pengetahuan memiliki kesesuaian yang bersifat korespondensi.

Susunan Pengetahuan Pancasila sebagai Suatu Sistem Pengetahuan

     Pancasila memiliki susunan yang bersifat formal logis baik dalam arti susunan sila-sila Pancasila maupun isi arti sila-sila Pancasila. Susunan sila-sila Pancasila bersifat hierarkis dan piramidal dimana sila pertama mendasari dan menjiwai sila kedua, ketiga , keempat dan kelima. Demikianlah maka susunan sila-sila Pancasila memiliki sistem logis baik yang menyangkut kualitas maupun kuantitasnya.

    Pembahasan berikutnya ialah pandangan Pancasila tentang pengetahuan manusia. Sebagaimana dijelaskan di muka bahwa masalah epistemology Pancasila diletakkan dalam kerangka bangunan filsafat manusia. Maka konsepsi dasar ontologis sila-sila Pancasila yaitu hakikat manusia monopluralis merupakan dasar pijakan epistemologi Pancasila (Kaelan & A. Zubaidi, 2007 : 17).

     Pancasila sangat mengakui kebenaran rasio yang bersumber pada akal manusia, selain mempunyai akal manusia juga mempunyai indra sehingga dapat menangkap kebenaran pengetahuan yang bersifat empiris. Maka Pancasila juga mengakui kebenaran empiris terutama dalam kaitannya dengan pengetahuan positif. Pancasila pun juga mengakui adanya kebenaran pengetahuan manusia yang bersifat intuisi. Manusia pada hakikatnya kedudukan kodratnya adalah sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, maka sesuai dengan sila pertama Pancasila, epistemologi Pancasila juga mengakui kebenaran wahyu yang bersifat mutlak hal ini sebagai tingkatan kebenaran yang tertinggi. 

Epistemologi Pancasila secara mendasar meliputi nilai-nilai dan asas-asas yaitu ;
  • Maha sumber ialah Tuhan, yang menciptakan kepribadian manusia dengan martabat dan potensi unik yang tinggi, menghayati kesemestaan, nilai agama dan ketuhanan. Kepribadian manusia sebagai subyek diberkati dengan martabat luhur yakni panca indra, akal, rasa, karsa, cipta, karya dan budi nurani. Kemampuan martabat manusia sesungguhnya adalah anugerah dan amanat ketuhanan/ keagamaan.
  • Sumber pengetahuan dibedakan dibedakan secara kualitatif, antara lain adalah:
          -  Sumber primer, orisinal: lingkungan alam, semesta, sosio-budaya & sistem kenegaraan,
          -  Sumber sekunder: bidang-bidang ilmu yang sudah ada, kepustakaan, dokumentasi,
          -  Sumber tersier: cendekiawan, ilmuwan, ahli, narasumber, guru.
  • Wujud dan tingkatan pengetahuan dibedakan secara hierarkis yaitu:
         -  Pengetahuan indrawi
         -  Pengetahuan ilmiah
         -  Pengetahuan filosofis
         -  Pengetahuan religius

     Pengetahuan manusia relatif mencakup keempat wujud tingkatan itu. Ilmu adalah perbendaharaan dan prestasi individual maupun sebagai karya dan warisan budaya umat manusia merupakan kualitas martabat kepribadian manusia. Perwujudannya adalah pemanfaatan ilmu guna kesejahteraan manusia, martabat luhur dan kebajikan para cendekiawan (kreatif, sabar, tekun, rendah hati, bijaksana). Ilmu membentuk kepribadian mandiri dan matang serta meningkatkan harkat martabat pribadi secara lahiriah, sosial (sikap dalam pergaulan), psikis (sabar, rendah hati, bijaksana). Ilmu menjadi kualitas kepribadian, termasuk kegairahan, keuletan untuk berkreasi dan berkarya. 

     Martabat kepribadian manusia dengan potensi uniknya memampukan manusia untuk menghayati alam metafisik jauh di balik alam dan kehidupan, memiliki wawasan kesejarahan (masa lampau, kini dan masa depan), wawasan ruang (negara, alam semesta), bahkan secara suprarasional menghayati Tuhan yang supranatural dengan kehidupan abadi sesudah mati. Pengetahuan menyeluruh ini adalah perwujudan kesadaran filosofis-religius, yang menentukan derajat kepribadian manusia yang luhur. Berilmu/ berpengetahuan berarti mengakui ketidaktahuan dan keterbatasan manusia dalam menjangkau dunia suprarasional dan supranatural. Mengetahui secara ‘melampaui tapal batas’ ilmiah dan filosofis itu justru menghadirkan keyakinan religius yang dianut seutuh kepribadian yaitu mengakui keterbatasan pengetahuan ilmiah-rasional adalah kesadaran rohaniah tertinggi yang membahagiakan.

Pembahasan dalam Epistemologis Pancasila

(A)  Dalam epistemologi Pancasila membahas/ persoalan yang mendasar adalah mengenai Sumber Pancasila yang dapat dibedakan menjadi dua sumber yaitu; (1) Sumber  formal adalah Pembukaan UUD 1945, dan (2) Sumber Material adalah kehidupan bangsa Indonesia sendiri.

Sumber formal Pancasila adalah Pembukaan UUD 1945

      Dalam mencari sumber formal dari Pancasila, tidak dapat lepas dari pembicaran Pembukaan UUD 1945 karena didalam Pembukaan UUD 1945 itulah terdapat rumusan Pancasila yang secara formal diakui sejak ditetapkannya oleh Pembentuk Negara pada tanggal 18 Agustus 1945. Pembukaan UUD 1945 mempunyai kedudukan diatas UUD-nya, walaupun UUD 1945 merupakan hokum dasar Negara Indonesia yang tertulis, tidak merupakan norma hukum yang tertinggi. 

     Susunan Pancasila sebagai suatu sistem pengetahuan, maka Pancasila memilki susunan yang bersifat formal logis, baik dalam arti susunan sila-sila Pancasila itu. Susunan kesatuan sila-sila Pancasila adalah bersifat hierarkis dan berbentuk piramida. Jadi jelas bahwa Pembukaan UUD 1945 merupakan sumber formal yang tidak dapat dirubah, apabila dirubah maka akan menghapus fakta dari sejarah perjuangan Indonesia.

Sumber material adalah kehidupan bangsa Indonesia sendiri (kausa materialis). 

     Sumber pengetahuan Pancasila merupakan nilai-nilai yang ada pada bangsa Indonesia sendiri, bukan berasal dari bangsa lain, bukannnya hanya perenungan serta pemikiran seseorang atau beberapa orang saja namun dirumuskan oleh wakil-wakil bangsa Indonesia dalam mendirikan Negara.  Dengan lain perkataan bahwa bangsa Indonesia adalah sebagai kausa materialis Pancasila. Oleh karena sumber pengetahuan Pancasila adalah bangsa Indonesia sendiri yang memiliki nilai-nilai adat istiadat dan kebudayaan dan nilai religius maka diantara bangsa Indonesia sebagai pendukung sila-sila Pancasila dengan Pancasila sendiri sebagai suatu sistem pengetahuan memiliki kesesuaian yang bersifat korespondensi. 

(B)  Metode Pancasila yakni metode dalam perumusan Pancasila yaitu kritis selektif dialektif eksperimental yang mengkaji / mengembangkan :
  1.  Interpretasi 
  2. Hermeneutika 
  3. Koherensi Historis adalah Pancasila sebenarnya merupakan budaya dan pembudayaan bangsa Indonesia yang perlu dipahami secara ilmiah oleh bangsa Indonesia. Masyarakat Indonesia menbudayakan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila sudah diidentifikasi yang dan diidealisasi dari kebudayaan itu. Jadi dalam hal ini Pancasila berhubungan erat dengan nilai-nilai perjuangan rakyat Indonesia pada zaman kemerdekaan. 
  4. Analityco Sintetik.

(C)    Kebenaran Pancasila 

     Kebenaran yang terdapat dalam Pancasila adalah kebenaran wahyu, rasional, empiris dan konsensus. Epistemologi Pancasila juga mengakui kebenaran wahyu yang bersifat mutlak. Hal ini sebagai tingkat kebenaran yang tinggi.  Dengan demikian kebenaran dan pengetahuan Pancasila merupakan suatu sintesa yang harmonis antara potensi-potensi kejiwaan manusia yaitu akal, rasa dan kehendak manusia untuk mendapatkan kebenaran yang tinggi. Dalam sila ketiga, keempat, dan kelima, maka epistemologi Pancasila mengakui kebenaran konsensus terutama dalam kaitannya dengan hakikat sifat kodrat manusia sebagai mahkluk individu dan mahkluk sosial. 

Membahas tentang kebenaran Pancasila yang merupakan penilaian dari manusia harus sesuai dengan empat teori kebenaran yaitu :

(1) Teori kebenaran koherensi terdapat dalam keruntutan antar nilai Pancasila dan terdapat kelogisan antar nilai Pancasila. Susunan Pancasila yang bersifat logis antar nilai Pancasila, baik dalam arti susunan sila-sila Pancasila itu. Susunan kesatuan sila-sila Pancasila adalah bersifat hierarkis dan berbentuk piramidal. Sifat hirarkis dan piramidal itu nampak dalam susunan Pancasila, dimana sila pertama mendasari dan menjiwai keempat sila lainnya. Dengan adanya piramidal Pancasila dapat dijelaskan yakni : 
  • Sekelompok manusia yang merupakan bagian dari ummat manusia seluruhnya mempunyai sifat khusus berketuhanan YME. 
  • Sekelompok manusia yang berketuhanan YME yang mencintai dan saling menghargai sesama makhluk Tuhan, saling menghormati sesuai dengan hak dan martabatnya. 
  • Sekelompok manusia yang berketuhanan YME saling mencintai dan menghargai sesama manusia yang berbeda-beda suku, adat istiadat mempunyai persamaan cita – cita satu kesatuan bangsa sebagai bangsa Indonesia. 
  • Sekelompok manusia sebagai bangsa Indonesia yang berketuhanan YME yang mencintai dan saling menghargai sesama manusia dalam penyelenggaraan negara diatur secara kekeluargaan / kerakyatan dengan melalui Lembaga-lembaga Permusyawaratan Perwakilan. 
  • Sekelompok manusia sebagai bangsa Indonesia yang berketuhanan YME yang mencintai dan saling menghargai sesama manusia dalam penyelenggaraan negara diatur secara kerakyatan mempunyai cita-cita ingin membentuk suatu masyarakat yang berkeadilan social untuk seluruh rakyat. 
(2) Teori kebenaran korespondensi yaitu isi yang terkandung dalam Pancasila sesuai dengan realitas kehidupan masyarakat Indonesia terbukti dengan adanya kausa materialis. Bangsa Indonesia sebagai asal mula dari sila-sila Pancasila yang digali dari bangsa Indonesia yang dapat berupa nilai-nilai adat istiadat, kebudayaan, religius yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia. 

(3) Teori kebenaran pragmatis yaitu mengenai masalah berguna / tidaknya pancasila bagi bangsa Indonesia sangat ditentukan / dipengaruhi oleh sikap dan tingkat pemahaman bangsa Indonesia tu sendiri, sehingga sebagian masyarakat Pancasila berguna dan masyarakat Indonesia lain belum berguna. 

(4) Teori kebenaran performatis yaitu mengandung pengertian tentang, Apakah nilai-nilai Pancasila sudah mampu merubah kebiasaan, pola hidup, kebiasaan dan semangat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lebih maju?, untuk menjawab hal tersebut sangat dipengaruhi oleh tingkat pemahaman masyarakat Indonesia mengenai Pancasila dan sikap masyarakat Indonesia itu sendiri.


KESIMPULAN

     Pancasila merupakan dasar filsafat negara Republik Indonesia, yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 yang mempunyai kedudukan tetap, terlekat pada kelangsungan Negara Republik Indonesia yang diploklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Oleh karena itu pancasila menjadi sumber dari segala sumber hukum bagi seluruh warga Indonesia. Adapun susunan Pancasila seperti yang terdapat dalam bagian keempat pembukaan UUD 1945 urut-urutannya ialah sebagai berikut :
  1. Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
   Sedangkan Epistemologi adalah bagian dari filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat, metode dan keshahihan pengetahuan. Jadi objek material epistemologi adalah pengetahuan dan objek formalnya adalah hakikat pengetahuan itu. Jadi sistematika penulisan epistemologi adalah arti pengetahuan, terjadinya pengetahuan, jenis-jenis pengetahuan dan asal-usul pengetahuan.

     Pancasila sebagai suatu objek pengetahuan pada hakikatnya meliputi masalah sumber pengetahuan Pancasila dan susunan pengetahuan Pancasila.
  1. Sumber Pengetahuan Pancasila. Oleh karena sumber pengetahuan Pancasila ialah bangsa Indonesia itu sendiri yang memiliki nilai-nilai adat-istiadat serta kebudayaan dan nilai religius, maka diantara bangsa Indonesia sebagai pendukung sila-sila Pancasila dengan Pancasila sendiri sebagai suatu sistem pengetahuan memiliki kesesuaian yang bersifat korespondensi.
  2. Susunan Pengetahuan Pancasila sebagai Suatu Sistem Pengetahuan. Pancasila memiliki susunan yang bersifat formal logis baik dalam arti susunan sila-sila Pancasila maupun isi arti sila-sila Pancasila. Susunan sila-sila Pancasila bersifat hierarkis dan piramidal dimana sila pertama mendasari dan menjiwai sila kedua, ketiga, keempat dan kelima. Demikianlah maka susunan sila-sila Pancasila memiliki sistem logis baik yang menyangkut kualitas maupun kuantitasnya.
    Apa yang dipelajari dalam Epistemologi Pancasila?

Dalam epistemologi Pancasila membahas/ persoalan yang mendasar adalah : 
a) Sumber Pancasila dapat dibedakan menjadi dua sumber yaitu, 
  1. Sumber  formal adalah Pembukaan UUD 1945 
  2. Sumber material adalah kehidupan bangsa Indonesia sendiri (kausa materialis). 
b) Metode Pancasila yakni metode dalam perumusan Pancasila yaitu kritis selektif dialektif eksperimental yang mengkaji / mengembangkan : 
  1. Interpretasi
  2. Hermeneutika 
  3. Koherensi Historis 
  4. Analityco Sintetik.
c) Kebenaran Pancasila 
  1. Teori kebenaran koherensi 
  2. Teori kebenaran korespondensi 
  3. Teori kebenaran pragmatis 
  4. Teori kebenaran performatis 

DAFTAR PUSTAKA


Kaelan, Prof. Dr. & Drs. H. Ahmad Zubaidi, 2007. Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Pergurun Tinggi, Penerbit Paradigma : Yogyakarta
Marsh, David & Gerry Stoker, 2011. Teori dan Metode Dalam Ilmu Politik (Theory and Methods in Political Science),  Penerbit Nusa Media : Bandung
Noor Syam, Mohammad, 1984. Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila, Penerbit Usaha Nasional : Surabaya
Noor, MS Bakry, 2003. Pancasila Yuridis Kenegaraan. Yogyakarta : Liberty.  
Zuhri, Drs. Miftahuddin, 1985. Pancasila, Tinjauan : Historis, Yuridis Konstitusional dan Pelaksanaannya, Penerbit Liberty : Yogyakarta

0 Response to "Epistemologis Pancasila (Pemahaman dan Kajian Tentang Epistemologisnya Pancasila)"

Post a Comment